Kamis, 01 Oktober 2015

Kedudukan suami istri

Assalamu'alikum ...


Bismillah,


Berhubung saya adalah stay at home mommy yang dimana kadang punya sedikit waktu mencuri-curi (kalau pekerjaan domestik sudah beres) untuk menonton televisi. Saya suka memilih-milih dalam menonton televisi apalagi kalau di sambi bermain dengan si kecil. Harus ekstra pilah-pilih. Ketika sedang mengganti channel, ada berita infotainment tentang pernikahan artis yang akan segera berlangsung.

Menurut saya berita ini menarik dan positif. Kok tumben ya berita infotainment positif? Positif karena latar belakang hubungan pasangan selebriti ini yang sudah menjalankan pacaran selama 8 tahun. Hal ini poin plus lho menurut saya, karena bukan sesuatu yang mudah pastinya dalam menjalani hubungan selama ini dalam pacaran. Positifnya lagi nih saya ikut merasakan bahagianya mereka.

Tapi ada satu hal yang lebih menarik bagi saya. Ketika sang pasangan wanita ini menyebutkan bahwa mereka melakukan perjanjian pra-nikah, bukan karena mereka takut dari pernikahan mereka akan terjadi apa-apa tetapi untuk memastikan kedudukan mereka sebagai suami-istri seimbang. Artinya tidak ada istilah bahwa suami lebih tinggi kedudukannya dan lain sebagainya.

Menarik. Iya, menarik. Bukan mengenai perjanjian pra nikah tetapi mengenai kedudukan suami istri. Membuat saya penasaran akan hal ini di dalam islam.

Dalam Al-Qur'an Allah SWT berfirman :

"Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebahagian dari harta mereka." (An-Nisa/4:34)


Dalam ayat tersebut jelas bahwa Allah SWT memberi kedudukan suami sebagai pemimpin bagi wanira. Berarti juga suami adalah kepala keluarga dalam rumah tangga. Tidak salah lagi kalau sepatutnya saya sebagai seorang istri untuk menghormati dan menghargai keputusan suami saya adalah yang terbaik bagi keluarga saya.

Pernah saya mendengar pernyataan seorang artis yang sudah lama men-jomblo dengan usia yang matang kenapa dia tidak juga menikah karena dia masih ingin untuk menggapai keinginannya tanpa ada halangan. Menurutnya bahwa dengan menikah, adanya suami dan anak bisa menghambat cita-citanya. Is that true?

Pernikahan adalah hal yang penuh keberkahan. Pernikahan adalah pembuka jalan. Dengan adanya suami, seorang istri akan lebih terlindungi dan bebas dari fitnah. Dengan adanya anak, seorang ayah dan ibu akan di permudahkan rejeki dan segala urusan dunia akhiratnya. Wallahu 'alam ...

Allah yang Maha Mengerti.

Kembali mengenai kedudukan suami istri. Ada baiknya suami dan istri untuk memahami betul apa masing-masing hak dan kewajiban mereka. Sehingga pernikahan bisa berjalan seimbang.

Memang adalah hal yang wajib bagi seorang suami untuk menafkahi istri tetapi bukan berarti istri bisa semena-mena untuk meminta nafkah lebih dari suami. Berapa banyak nafkah suami tergantung dengan kemampuan suami. Dengan sama halnya kewajiban istri untuk tidak menghamburkan nafkah dari suami. 

Ini menjadi sebuah catatan bagi saya dalam berumah tangga. Menjadikan pilar-pilar kehidupan rumah tangga saya. Bahwa segala hal yang telah Allah SWT firmankan dalam kitab suci Al-Qur'an adalah nilai-nilai yang terbaik yang wajib saya jalankan dalam kehidupan sehari-hari saya. Menurut saya kedudukan suami pantas mendapatkan gelar sebagai pemimpin istri. Karena istri terbuat dari tulang rusuknya. Semoga Allah selalu memberikan rahmatan lil 'alamin dan keberkahan dalam pernikahan kami dan pernikahan orang-orang yang mukmin. 

Alhamdulillah .

Semoga bermanfaat! 

Salam, 





Tidak ada komentar:

Posting Komentar